Rabu, 06 Maret 2013

Hey, Gadis Hiragana

Kopi pertama pagi ini, cukup nikmat dengan sebatang rokok yang perlahan siap membunuhku dari dalam. Aku mungkin perokok aktif, bahkan terlalu aktif untuk ukuran orang normal. Tepatnya aku tak normal dengan pola merokok seperti yang aku jalani. Itu sangat tidak baik untuk kesehatanku dan orang di sekitarku. Tapi untuk berhenti merokok aku pikir perlu alasan yang sangat tepat dan gila daripada memutuskan untuk tidak memegang telepon seluler selama satu minggu. Baiklah, ini teori gila untuk kalian yang tidak gila terhadap rokok. Ini tak masuk akal untuk kalian yang tak tahu bagaimana rokok lebih penting daripada makanan pokok. Aku sebagai perokok aktif ingin mengkampanyekan bahaya merokok. Mungkin tak perlu, bukankah setiap kemasan rokok telah mengkampanyekan bahayanya masing-masing. Bukankah setiap Sekolah Menengah Pertama selalu mempersentasikan bahaya rokok kepada siswanya setiap tahun. Tapi kenapa masih banyak siswa sekolah yang merokok ? Banyak orang-orang yang, maaf, mengenyam pendidikan dan tahu bahaya rokok sepertiku tetap merokok. Sebenarnya aku tidak terlalu bodoh untuk mengerti rokok berbahaya, tapi, ini yang sulit dijelaskan, rokok membuatku tampak seperti orang bodoh.

Bagaimana pun aku tak ingin merusak devisa negara karena aku menulis ini untuk mengkampanyekan bahaya merokok. Walaupun tepatnya ini seperti lelucon dan cerita pribadi, tak seperti tema kampanye yang aku sebutkan. Tak apa, mungkin ini kebodohan yang disebabkan oleh rokok yang kuhisap didepan layar komputer sambil menulis tulisan ini. Aku juga tak ingin mendapatkan telepon dari lembaga anti perokok dan mengucapkan "Selamat anda sebagai perokok aktif, telah menjadi juru kampanye anti rokok dan menyelamatkan anak muda kita yang rentan terhadap bahaya merokok". Sedangkan saat itu aku berada di dalam ruangan etalase kaca, yang bertuliskan "Smoking Area", dan orang-orang yang tak merokok menatapku seakan aku adalah ikan idiot di dalam aquarium besar di sebuah kebun binatang yang berisi hewan-hewan pintar. Itu sangat menjijikan untuk dibayangkan, terimakasih.

Cukup, itu hanya lelucon yang membuatku semakin terlihat bodoh untuk mengkampanyekan bahaya merokok. Bahkan orang yang merokok setiap hari tak peduli dengan tulisan "Peringatan, rokok dapat menyebabkan anda............ Kehamilan". Menjijikan bukan.

Beberapa hal tak mampu aku mengerti, seperti rokok dan bahayanya. Lebih dari itu, suatu perasaan atau mungkin tindakan yang bisa berubah terhadap sesuatu yang sama. Aih, aku tak mampu menjelaskannya secara sains, pula tak bisa menjelaskannya seperti seorang Psikiater handal yang berdiri menatap taman kantornya sambil membelakangi si klien. Walaupun pada kenyataannya aku hanya berada didepan layar ajaib yang memunculkan setiap huruf yang aku ketik diatas keyboard ini. Tak, tuk, tak, tuk, tak, tuk. Seandainya alur kehidupan seperti mesin ajaib ini. Apa pun yang kita inginkan bisa muncul dengan mudah di hadapan mata. Beberapa kesalahan bisa kita hapus dengan cepat. Mungkin aku juga tak akan seperti ini, menulis setiap apa yang aku rasa. Seperti yang seorang Psikolog bilang, mengungkapkan kesedihan berarti mengurangi kesedihan anda. Sebenarnya aku tidak terlalu sedih untuk menuliskan kesedihan, tapi ada semacam perasaan aneh yang entah ini sedih atau mungkin bukan sedih,  tapi masih berkaitan dengan kesedihan. Mungkin ini sepupuh jauh dari kesedihan. Setelah aku renungkan beberapa saat, aku putuskan ini bukan kesedihan atau pun kerabatnya.

Ada beberapa hal yang aku rindukan dari menulis. Mungkin aku terlalu lama tak membuat tulisan apa pun. Aku terlalu sibuk untuk mengerti keadaanku saat ini. Membaca situasi yang aku rasa berbanding terbalik dengan apa yang sudah terjadi. Ini tentang Gadis Hiragana, yang beberapa orang mungkin bosan membacanya. Beberapa orang mungkin tak tertarik membaca picisan ini. Gadis yang, jujur saja, membuatku lebih gila daripada merokok. Apa yang orang lihat dari diriku adalah, selalu mudah untuk melakukan apa pun. Dan yang paling konyol yang aku sadari adalah aku telah menyia-nyiakan waktu untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Yap, tapi kadang kesalahan datang dari keegoisan sendiri. Entahlah, Selama aku tak menulis untuk blog-ku terlalu banyak kejadian yang tak mampu aku mengerti.

Saat ini, entah apa yang harus aku lakukan. Memulai dari nol terhadap orang yang sama ? Atau mencari jalan pintas dari rumitnya graph yang tak berujung seperti circles. Tidak, tidak, tidak, ini hanya karena, mungkin, karena tak ada aktivitas yang dilakukan bersama seperti biasanya. Aku tak ingin cinta yang terburu-buru. Aku ingin cinta yang dewasa, yang bukan hanya kata-kata atau kejadian aneh seperti di film televisi yang lebih nampak seperti dongeng pada zaman Kerajaan Majapahit. Tapi beberapa hal seperti penyesalan mulai mengekang. Memaksa untuk berbicara. Memohon untuk meminta. Berlarian dan menggangu jam tidur yang nyatanya tidaklah terlalu banyak. Hal inilah yang menyebabkan aku lebih sering terjaga setiap malam, tanpa melakukan apa pun bersama, lagi-lagi, sebatang rokok yang setia mengepul di dalam mulutku.

Hey, Gadis Hiragana. Apa yang berubah ? Adakah yang harus diubah ? Lihat lukisan pepohonan di dinding itu. Tanyakan padanya apa yang sudah terjadi ? Tanyakan.









Thanks for reading...






Jumat, 01 Maret 2013

Desember

Pohon besar yang rindang di penghujan bulan Januari.
Aku sudah lewati Desember bersama rintik hujan dan seribu gelak tawa. Bersama renungan malam dikala purnama menggantung sempurna. Aku menikmati Desember saat kita bisa duduk berdua. Berdua saja tak ada siapa-siapa. Lalu kita bercanda-canda dibawah sebuah lukisan yang menyimpan beberapa rahasia. Rahasia dari kita yang sering berbicara tentang apa saja.

Kita sudah lewati Desember. Kita pernah melewati Desember berdua. Saat kupikir jalan akan lurus saja, tapi ternyata aral ada dalam diri kita sendiri. Beberapa gangguan paikologis kadang mampu mengganggu keharmonisan, tapi kita bisa bertahan walau dengan keadaan tetap seperti ini saja. Aku tak bisa berkata apa-apa. Dan kamu tak bisa kutanya. Kau mungkin tahu aku, tapi tidak denganku untuk tahu kamu. Kadang kita berlawan. Sering juga banyak kesamaan yang menimbulkan perdebatan. Kamu selalu menjadi sosok misterius dikala senyum tak mampu kuartikan.

Ahh.... Ini bukan sesuatu yang harus digalaukan bukan ? Desember sudah terlewat terlau lama. Tulisan ini pun sudah terlalu lama mengendap dalam draf-ku. Baru sekarang aku ingin menyentuhnya. Melanjutkannya lagi. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin lebih baik aku akhiri saja tulisan ini. Heuheuheu










Thanks for reading....






Minggu, 20 Januari 2013

Petualangan Konyol (Kamis Terburuk)

Pagi itu, aku rasa pagi yang sangat menyebalkan untuk orang-orang yang beraktivitas di wilayah Jakarta. Hujan lebat tak henti-hentinya menyebabkan genangan air di sepanjang jalan, dan juga pastinya menandai dibukanya Jakarta Water Park.

Aku harus berangkat kuliah dengan menaiki transportasi umum. Aku sudah tak lagi memiliki kendaraan pribadi. Tak masalah, aku sudah mulai lebih nyaman naik tranportasi umum dibandingkan sebelumnya. Entah kenapa sebelumnya tiba-tiba aku diliputi rasa ketakutan untuk menaiki transportasi umum, tapi itu sebelum saat ini.

Aku tertegun di belakang Mall Pondok Gede, ketika hujan tak jua mau melunakan keegoisannya. Angkutan umum menuju terminal Kp. Melayu pun menutup pintu mereka rapat-rapat. Bukan karena ingin melindungi penumpangnya dari tampiasan air hujan, bukan. Tapi para supir angkutan umum yang menuju terminal Kp. Melayu tak mau menarik penumpang karena akses jalan ke arah sana sudah berubah menjadi Jakarta Water Park. Siapa pun kalian silahkan jika ingin berenang disana, FREE OF CHARGE ! Aku suka kalimat free of  charge untuk menarik perhatian dari promo-promo tertentu, tapi tidak untuk Jakarta Water Park. Do you know Jakarta Water Park ? itu adalah nama untuk sebuah tempat di Jakarta yang tergenang air minimal selutut orang dewasa. Atau jika kalian masih tak mengerti, itu adalah nama lain dari bencana banjir yang setia melanda Jakarta setiap musim penghujan. Nama itu diberikan oleh atasan tempatku bekerja paruh waktu. Ya, Jakarta Water Park. Keren bukan ?

Kembali ke topik utama. Aku sudah berdiri hampir satu jam menunggu angkutan umum di sebuah saung kecil tempat tukang ojek mangkal di belakang Mall Pondok Gede. Sepertinya itu sangat menyebalkan untuk dibayangkan. Sampai datanglah sebuah mobil mikrolet 18 dengan tujuan Kp. Melayu. Mungkin mikrolet ini dikendarai oleh seorang supir dengan penyakit gangguan jiwa ringan untuk mendapatkan rupiah. Atau memang dia konsisten dengan pekerjaannya mengangkut penumpang ketika rekan-rekannya mangkir dari tugas mulia tersebut. Aku langsung naik dan bergabung dengan beberapa ibu-ibu dan lelaki dewasa yang sudah duduk manis di dalamnya. Untuk memecahkan keraguan tentang penyakit gangguan jiwa ringan karena rupiah, aku mencoba memberanikan diri bertanya kepada sang supir. "Bang, bukannya banjir ya di Penas Kalimalang ?" "Banjir juga bisa lewat kok, tenang aja mas." Itu adalah kalimat santai yang paling meyakinkanku bahwa aku semakin percaya sang supir terjangkit gangguan jiwa ringan karena rupiah. Mikrolet berjalan lamban dan pasti, pun dengan penantianku berakhir. Penantian menunggu angkutan umum selama satu jam itu lebih menyebalkan daripada menjadi jomblo yang sebentar lagi genap dua tahun seperti yang sedang kualami. Dua kasus yang berbeda memang, tapi sudahlah siapa peduli ? Kementerian yang menaungi pemuda pun tak pernah menjadikan masalah jomblo menjadi program kerja mereka. Tak pernah juga aku dengar dalam kampanye bahwa calon-calon penjabat itu berjanji akan mensejahterakan jomblo-jomblo yang bermasalah dalam mencari pasangan. Aku yakin pemilu presiden 2014 akan dimenangkan oleh calon yang mengkampanyekan hal tersebut. Trust me ! Karena menurutku jomblo seperti penyakit menular yang sulit disembuhkan untuk orang-orang sepertiku yang bertampang pas-pasan.

Mikrolet sudah berjalan hampir satu jam, dan sekarang terjebak macet lebih dari satu jam. Hujan masih saja egois dan tak mau mereda. As long as i can remember, ini adalah kamis terburuk seumur hidupku. Aku memilih keluar dan berhujan-hujanan di jalan raya untuk mencari counter penjual pulsa. Belum sempat kuceritakan sebelumnya, bahwa selama di dalam mikrolet aku chatting dengan teman satu kampusku, atau mungkin satu kelas. Tidak, tapi selalu satu kelas karena jadwal kami selalu sama untuk semester ini. Jaringan internet sedikit bermasalah, itu sebabnya aku mencari penjual pulsa. Juga karena aku panik, temanku keluar dari mikrolet dan memutuskan untuk pulang karena banjir di Penas Kalimalang tak bisa dilewati oleh kendaraan, atau mungkin tepatnya tak ada yang mau lewat. Aku telpon dia yang bingung menyebrang jalan. Aku berikan beberapa petunjuk agar dia bisa menyebrang dan pulang. Macam navigator atau guide yang berbica lewat telpon keadaanku pagi itu. Hampir lupa, aku kenalkan temanku yang terjebak di penas kalimalang. Namanya Fathya Jasmine, tapi tak pernah aku memanggil dia dengan namanya. Aku orang sunda dan bermasalah dalam pelapalan huruf F, mungkin itu sebabnya tak banyak orang sunda yang berhasil dalam bidang sastra indonesia. Kami--orang sunda, mungkin akan gagal dalam test pertama penyebutan huruf alfabet. Maka dari itu, aku memanggil dia Cilu dan bukan Fathya seperti teman-temanku yang lain. Sebenarnya itu adalah nama kelincinya yang sudah mati. Aku rasa itu adalah kelinci kesayangannya, karena sering sekali dia menyebutkan "Cilu" ketika mentwit kegiatannya di akun jejaring sosial twitter miliknya, dan kejadian itu terjadi sebelum sang kelinci mati.

Satu jam kurang sepuluh menit, aku sudah menunggunya sambil duduk di halte bus bersama anak-anak sekolah yang gagal sampai kesekolah. Mungkin nasib mereka sepertiku, sama-sama mendapati hari kamis terburuk seumur hidupnya. Tak lama, datang kabar bahwa Cilu sudah menunggu di pom bensin. Aku datang menghampirinya yang sedang duduk melepas lelah karena berjalan kaki dari Penas Kalimalang lewat Cipinang Indah. Pantas Mulan Jameela mengaku bukan wonder woman dalam lagunya, karena wonder woman yang sebenarnya ada di hadapan mataku siang ini. Kami melakukan diskusi kecil dan sim salabim...... Kami mengurungkan diri dari niatan pulang, dan tetap berangkat kuliah dengan mengambil jalan berbeda. Tapi dengan kesepakatan jika terjebak macet lagi maka kami batal berangkat kuliah dan tetap pulang. Aku dan Cilu putar haluan dengan naik angkutan umum yang menuju Rawamangun, dan tak ada macet sepanjang jalan ke arah sana. Aku adalah orang awam untuk perkara naik angkutan umum, tapi aku hafal jalanan Jakarta. Itu adalah masalah tersediri karena aku dan Cilu akhirnya harus turun di depan Mall Arion yang tergenang air setinggi lutut. Kami berdua sudah berputar-putar mencari jalan yang tak ada genangan airnya, tapi hasilnya nihil. Menawar bajaj pun sudah, suapaya bisa melewati genangan air dan bisa cepat sampai ke kampus. Tapi terlalu mahal untuk ukuran kantong mahasiswa sepertiku, kami berdua maksudnya. Aku sendiri tak pernah naik bajaj, tak tahu berapa tarif normalnya, harga dua puluh ribu rupiah menjadi sangat mahal untuk angkutan mungil yang hanya bisa menampung dua orang, tanpa jendela, tanpa safety belt, tanpa air conditioner dan hanya akan memuat kami tak lebih dari dua kilometer untuk menuju kampus. Aku tak mau tertipu oleh supir bajaj itu, tak mau sama sekali. Akhirnya kami memutuskan berjalan, dan masalah melewati genangan air sudah dapat kuatasi dengan cara yang tak terlalu sulit. Aku lipat celanaku setinggi lutut dan dalam waktu kurang dari tiga puluh detik sudah kulewati genangan itu dengan kaki yang kedinginan karena sepatuku rembes seluruhnya. Sedangkan Cilu ? Dia aku tumpangkan di motor seorang lelaki yang usianya sudah mulai lanjut, kebetulan lelaki berusia lanjut itu baik dan mau membonceng Cilu sampai melewati genangan air. Petualangan konyol ini belum usai, karena ternyata tak ada angkutan umum dari Mall Arion menuju kampus kami. Mau tak mau, dan dengan keadaan sangat terpaksa kami harus berjalan kaki sampai Jl. Pramuka untuk mendapat angkutan umum, dan setahuku hanya ada bus yang melewati jalan itu. Aku tahu karena dulu ketika aku masih berangkat kuliah mengendarai sepeda motor aku sering batuk-batuk karena menghirup asap dari knalpot bus yang sudah sangat rombeng. Perjalanan menuju Jl. Pramuka tak kurang dari empat ratus meter, dan itu membuat kaki kami lecet-lecet. Kami berdiri dipinggir jalan untuk men-stop bus yang lewat. Sial, aku sudah bilang bahwa hari ini adalah hari kamis terburuk dalam hidupku. Bisa kalian bayangkan, aku kebelet buang air kecil dan sedang ingin menumpang pipis di toilet sebuah bengkel. Ketika aku berjalan menuju toilet, aku melihat sebuah bus lewat dan tak pernah ada lagi yang lewat setelah itu. Ini adalah pertanda bahwa kami harus kembali berjalan kaki. Pilihan terburuk dan terbaik dalam keadaan seperti ini.

Hujan masih saja turun rintik-rintik meledek perjalanan kami dengan kaki terpincang-pincang. Baju dan celana jangan lagi ditanya seperti apa. Tak terlalu basah memang, tapi cukup untuk membuat tampang kami semakin menderita siang ini. Kami berhenti disebuah halte untuk berteduh dan beristirahat, lalu aku tanyakan dimana ada angkutan yang bisa membawa kami ke Salemba atau Pasar Genjing kepada seorang bapak-bapak yang sedang berdiri dipinggir jalan dan tak jelas menunggu apa. Ia bilang tak ada, kalau mau aku harus berjalan dulu sejauh seratus meter untuk bisa menaiki angkutan umum yang bisa mengantar kami ke arah sana. Aku bukan tak sanggup lagi untuk berjalan, bukan. Tapi aku pikir aku tak mungkin lagi menambah penderitaan seorang wanita yang sudah berjalan sejak tadi bersamaku, dan kami berdua sudah cukup menderita. Sekali lagi bajaj berhenti di depan muka. Kali ini tak banyak cingcong, aku melunak dan rela tertipu oleh supir bajaj ini. Harga sepuluh ribu rupiah pun menjadi kesepakatan bersama antara aku dan sang supir. Itu pun belum sampai kampus, karena aku dan Cilu masih harus naik angkutan umum untuk sampai di kampus. Ini adalah petualangan terkonyol untuk mendapatkan nilai dari tugas mata kuliah matematika diskrit.

Kawan, tahukah kau ? semua yang terjadi hari ini adalah perjuangan terberat untuk mendapatkan nilai delapan puluh yang nyatanya tertulis sangat jelek di buku tugasku. Dan satu rahasia dari lagu Mulan Jameela adalah, bahwa sang wonder woman adalah Cilu. Wanita yang berjalan dari Penas Kalimalang lewat Cipinang Indah menuju pom bensin satu-satunya di sepanjang jalan antara Gudang Seng dan Pangkalan Jati. Lalu berjalan lagi dari Mall Arion di Rawamangun sampai halte bus pertama di Jl. Pramuka tanpa mengeluh sama sekali. Dia adalah wanita pertama yang aku dapati sekuat dan sesemangat itu.



Untuk Cilu dan semangatnya..........



Thanks for reading....




Jumat, 21 Desember 2012

Purnama Tak Terlukis

Kaulukiskah purnama itu ?
Aku mungkin salah membuat pertanyaan. Tak ada purnama malam ini, tak ada sedikit pun cahaya di langit malam. Ah, hujan pun rintik-rintik gerimis malam ini. Aku tak ingin berpuisi. Tak ingin berdialog dengan hujan. Biarlah turun hujan malam ini hingga terlelap ku dibuatnya. Bersama merdu nyanyian serangga malam yang saling bersahutan. Diiringi semeliwir angin yang pelan-pelan menghampiri lewat lubang-lubang di atas jendela.

Malam terus berangsur naik. Semakin hari, semakin bertambah pula kebodohanku untuk tak mengerti. Aku memang terlalu bodoh, atau mungkin dibuat bodoh oleh perasaanku sendiri. Bukankah seharusnya hormon dopamine berkurang secara konstan setiap mengulang terhadap orang yang sama ? Tapi kenapa kau menjadi seperti candu untukku. Semakin hari, semakin menagih, you're my drug ! Inikah tanda-tanda sakit jiwa karena cinta tak pernah bertanya ? Atau ini sisa halusinogen yang masih melekat dalam syaraf sejak tahunan lalu. Sepertinya tetra-hydro-cannabinol dapat menjelaskan semuanya dengan penuh canda. Tapi, lupakanlah. Kau lebih dari segalanya untukku dibanding zat adiktif yang dapat merusak sistem kerja syaraf . Kau memiliki semua zat-zat dalam napza. kau lebih baik dari heroin, cannabis sativa syn, morfin, kokain, opium, ataupun ICE. Kau sanggup memberikan khayalan, ketenangan, kebahagiaan, kekuatan, dan ketagihan dalam waktu yang bersamaan.

Sejatinya, dalam setiap ruang waktu yang tebuang diantara kata-kata kita. Aku ingin sekali melontarkan tanya. Tapi terlalu beku. Kaku, tak memberikan sedikit pun elastisitas pada lidahku yang sebenarnya tak bertulang. Daun jenuh menunggu kata dariku. Kamboja menggugurkan daunnya sebagai tanda protes terhadapku. Burung hantu tak mau lagi menyerukan suaranya yang kadang membuat bulu kuduk berdiri karena merinding, Ia menolehkan kepalanya seratus delapan puluh derajat karena enggan mengintipku dari celah jendela kamar. Aih, seburuk itukan nasibku malam ini ?

Gemericik hujan menjadi soundtrack malam ini untukku yang sedang duduk dan mencoba berkawan dengan secangkir kopi yang masih saja tak banyak tingkah. Masih saja tenang, hangat, walaupun kadang berbeda pendapat denganku. Kawan, masih ingatkah tentang pedebatanku dengan secangkir kopi ? Percayalah, kali ini tak akan terjadi lagi. Aku berjanji pada kalian, pada ibuku, ayahku, teman-teman sekolahku, dan seluruh benda yang ada dimuka bumi. Demi terciptanya kedamaian malam ini: sungguh, aku berjanji tak akan memperdebatkan keadaanku dengan kopi ini. Biarkan dia berikan kehangatannya untukku, biarkan. Tak ada lagi yang sudi menemaniku selain secangkir kopi ini. Dalam ruang 3 x 4 yang terasa cukup luas untuk kamar seorang bujang, aku hanya duduk dan saling berdiam diri bersama secangkir kopi hangat. Inilah moment of silence.

Sekarang waktu sudah menunjukan jam 21.24. Bersama iringan lagu Back to December milik Taylor Swift dengan versi yang berbeda, aku menikmati ketenangan dan kebodohan ini dihadapan secangkir kopi. Masih banyak kata yang ingin aku sampaikan lewat tulisan ini. Walau aku tahu, tak sekali pun kamu berminat untuk membaca tulisan-tulisanku. "Malas", itulah alasan yang kausampaikan ketika aku memintamu untuk membaca tulisan-tulisanku. Tak mengapa, aku tak peduli. Biarlah tulisan ini bergema dalam keabadian, dalam rentang waktu tanpa batas. Walau tak tersampaikan maksud hati kepadamu. Walau tak tersentuh hati karena puisiku. Inilah hidup yang harus selalu diperjuangkan. Bukankah Tuhan tak pernah salah dalam mengatur skenarionya ?

Lagu Back to December sudah berhenti berputar, bersama dengan buih-buih hujan yang semakin berkurang suaranya mengetuk jendela kamarku. Burung hantu sudah terbang entah kemana, pergi dari pohon jambuku. Malam semakin meninggi, menyisakan gerimis dan secangkir kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Pupus sudah akan harapan purnama yang terlukis malam ini. Potretmu semakin jelas melekat dalam pikiranku. Lelaki sepertiku yang tak mampu mengungkapkan cinta sudah sangatlah langka. Jika ada nominasi awards untuk lelaki macam aku ini, mungkin aku yang akan menjadi juara bertahan selama lima tahun berturut-turut. Aih, tak apa bukan ? Nominasi macam itu tak lebih buruk daripada wajah maling jemuran yang cemas karena dikepung warga desa.

Aku akhiri malam ini dengan mengingat wajahmu dipelataran rumah untuk mengantar kepulanganku. Aku matikan lampu kamarku. Lagu pengantar tidurku segera berputar, Prettiest Friend milik Jason Mraz. Semoga terlelap kau disana, semoga indah mimpiku disini.




I wrote this for my prettiest friend who while trying not to prove that i care, trying not to make all my moves in one motion and scare her away. Well, she can't see she's making me crazy now. I don't believe she know she's amazing how, she has me holding my breathe. So i'd never guess that i'm a none such unsuitable, suitable for her (Prettiest Friend by Jason Mraz)



Con amore.....
Thanks for reading.....




Sabtu, 08 Desember 2012

Hipotesa

Sampai pada suatu hari aku tak pernah percaya, jika aku cinta padamu. Tak pernah. Aku bergelut dengan waktu, melebur dengan malam, dan membangun setiap hipotesa yang mungkin saja terjadi dalam konotasi ideologi imajinasi. Sumber seni yang selalu Albert Einstein kiblatkan dalam setiap pemikirannya, imajinasi. Bagaimana mungkin energi adalah hasil dari massa kali kecepatan cahaya. Sampai saat ini aku masih tak mengerti apa yang Bapak Jenius itu pikirkan dari E=mc kuadrat. Sama seperti aku tak mengerti kebeneran apakah aku cinta padanya ?

Banyak sudah hipotesa yang aku rumuskan dalam setiap imajinasiku. Sangat banyak, dan selalu bernilai salah. Setiap aku dapatkan formula dari pemikiranku, maka keesokan harinya aku dapatkan lagi rumusan yang menyalahkan formula sebelumnya. Maka duagaan-dugaan yang selalu aku buat setiap hari tak pernah benar dalam pola graf garis simetris pada titik koordinat cinta.

Untukmu
Aku tak pernah berhenti berpikir untuk menemukan kebenaran dari hipotesa-hipotesa gilaku. Saat ini aku sudah merumuskan tujuh ratus dua belas hipotesa yang selalu bernilai salah. Bahkan ketika kau jatuhkan jasadmu dalam pelukku, dan ketika kurangkulakan gelisahku dalam jiwamu. Masih saja bernilai salah ketika kurangkaikan kata-kata ini menjadi sebuah cerita sampah. Tak mengapa, aku tak peduli. Aku selalu meyakini bahwa akan ada nilai benar sebelum hipotesa yang ke tiga ribu seratus dua belas.

Terik matahari
Siang itu, setelah sujud dan salam yang kupanjatkan di sebuah mesjid. Matahari baru saja bergeser dari ubun-ubunku. Pintu yang terbuka membelah semua ruangan menuju pintu terakhir halaman belakang. Kuucapkan salam tapi tak ada jawaban. Hening dan sepi sekali karena mimpi sedang mengajakmu berjalan menembus dimensi waktu refleksi kehidupan alam sadar. Paras yang damai membuatku takut untuk melakukan gerakan yang bisa membangunkanmu. Aku duduk saja disampingmu sambil memandangi potret masa kecilmu yang tertata cukup rapi disudut barat laut. Kusamakan dengan wajah indahmu yang menutup mata. Aih, aku dibawa dalam halusinasi kisah masa kecilmu. Dihadapan segelas air putih yang tak banyak tingkah itu, aku tersenyum-senyum kecil menggambarkan masa kecilmu. Tingkah yang sedikit gila memang, tapi cukup normal untuk seseorang yang sedang belajar memahami perasaanya sendiri.

Siang itu. Hanya dihari itu aku membuat sebuah formula terumit dari hipotesa dalam hidupku. Kebenaran yang saat ini aku singgungkan dengan kesalahan. Beberapa pertanyaan mulai menghampiriku. Apa ? Kenapa ? Bagaimana ? Kapan ? Aku benci pertanyaan ! Aku mencaci diriku sendiri. Aku keluarkan semua kata-kata yang kasar untukku sendiri. Sampai akhirnya kamu terbangun dan aku berhenti melakukannya lagi.

Perasaanku. Aku tak mau menjadikannya sebagai sebuah hakitat. Perasaan tak pernah mengerti nilai false, semuanya selalu bernilai true. Bahkan semua yang disangkal oleh sains akan tetap bernilai true jika perasaan yang melakukan penilaian. Biarkan aku berpikir tanpa henti. Aku tak mau membenarkan semuanya dengan perasaanku. Aku butuh kebenaran dari hipotesa yang bernilai salah, dari mata yang terpejam untuk menunggu kata cinta dikeesokan harinya.


    Kurangkul kau kurangkul

         Kaujatuhkan jasadmu dalam pelukku

              Kurangkul kau kurangkul

                   Biarlah sampai terlelap kau menutup matamu





Con amore....
Thanks for reading..




Kamis, 15 November 2012

Amor

Aku berjalan diantara malam, diantara heningnya kegelapan. Aku meraba kenyataan, mencoba cumbui desir-desir kesepian. Inilah aku bersama malam. Melangkah dengan pelan bersama lamunan, ditembangi suara merdu jangkrik dan serangga malam. Adakah sesosok kuntilanak yang rela menemaniku ? Meliukkan tawanya untuk memecah sepi.

Gadis
Sadarkah kau ? Mungkin tak sadar, karena ini malam buta. Dan kupastikan kau sedang lelap dalam tidurmu. Memeluk gulingmu dan hangatkan tubuhmu dengan selimut tebal bulu angsa. Secara puitis aku rela menjadi pengganti guling untuk kaupeluk. Ohh ya, itu bukan puitis, mungkin gombalis. "Gombalis" itu hanya karanganku, tak ada juga dalam kamus besar bahasa indonesia. Ha ha ha

Jika saja kau tersadar dan ada disampingku. Kau mesti tahu, letupan-letupan dalam dadaku semakin bergejolak dan ingin memuntahkan segala isinya. Isinya hanyalah rangkaian cinta sederhana yang terbentuk saat pertama kali kita berbagi cerita. Tapi berikatan kuat seperti kutub magnet yang melekat dengan kutub lainnya yang berlawanan.

Ini bukan perkara medan magnet yang dipelajari di sekolah. Ini perkara perasaan yang tak pernah dibahas institusi mana pun. Bahkan dalam ilmu psikologi pun tak pernah kudengar mengupas kuliah tentang kerumitan jatuh cinta.

Jatuh ? Aku benci jatuh . Siapakah penemu kata jatuh ? Harusnya kerasukan cinta, bukan jatuh cinta. Siapa yang rela jatuh ? Berdarah-darah, sakit, terluka. Cinta tak seperti itu. Cinta itu tertawa, bahagia dan melayang tak sadar. Katakanlah kerasukan cinta (mulai saat ini). Maka kau akan tertawa, kau tak akan pernah sadar apa pun yang kaulakukan hanyalah demi cinta. Walaupun menurut orang lain itu sedikit gila.

Malam yang aku temui kini semakin tinggi. Tinggi, tinggi, dan tak mampu aku menjangkaunya. Aku semakin tunduh dalam sepi. Mungkin malam pun sudah enggan menemani lelaki kuntet yang selalu bergelut dengan sepi. Padahal jika saja dia-malam tahu aku sedang kerasukan cinta, aku yakin dia akan memohon untuk mendengar ceritaku. Lalu aku pura-pura tak peduli. Sampai dia merengek, mengemis, dan bersujud di depanku, barulah akan kuceritakan kisah kerasukan cintaku. Tapi sayang dia sudah pergi. Kini aku sendiri beratap langit gelap. Sesekali memang terlihat bintang yang mengedipkan matanya, tapi sudahlah. Bintang terlalu jauh untuk kuraih, it's so impossible-meraih bintang.

Kulihat lagi ke atas, kutemui lagi bintang yang terus saja menggodaku. Tapi untuk kesekian kalinya aku tetap tak peduli, tidak sama sekali. Disamping bintang genit itu awan berarak ke utara, berkejar-kejaran seperti segerombol bangau yang berpacu dengan senja. Segumpul demi segumpul hilang. Ahh cepat sekali mereka pergi. Tapi.... Iya ada tapinya. Setelah kepergian gumpalan awan yang membentuk ekosistem itu, aku melihat sekumpulan bintang yang saling bersahutan mengerlingkan cahayanya. Bintang yang tadi genit menggodaku sudah tak kuketahui dimana adanya. Bentuk mereka semua sama. Di selatan kutemukan rasi bintang layang-layang. Sepertinya rasi bintang penunjuk arah selatan itu tak akan pernah berpindah tempat walau tertiup angin badai sekali pun. Dia adalah bukti setia pada keteguhannya. Aku pernah membayangkan jika sebenarnya rasi bintang layang-layang pernah digoda untuk berpindah ke arah barat laut. Dijanjikan kepadanya wanita-wanita cantik yang melamun di atas atap rumah. Tapi dengan tegas dia menolaknya. Sungguh sejati, karena sampai saat ini ia masih di selatan.

Itu rasi bintang layang-layang dengan kisahnya. Lain dengan kisah kerasukan cinta milikku. Lain sekali. Tak perlu panggil Wak Haji untuk merukiahku. Kerasukan cinta sudah menjadi bagian setiap hidup manusia. Biar kujelaskan, tapi tak perlulah. Sudah kujelaskan kenapa aku katakan kerasukan cinta.

Gadis
Kauingatkah lagi ? Ketika mata kita terkunci diantara ketidakpastian. Kita berbincang, berbagi potongan-potongan mozaik tentang kehidupan. Disanalah, di bawah pohon pada suatu pagi. Aku merasakan ada letupan-letupan kecil yang saling bertabrakan, bergerak bebas, dan menjadi sebuah rangkaian sederhana ikatan perasaan.

Aku pikir kamu unik dengan segala kisahmu, seperti narasai fiksi yang aku coba rangkai setiap hari. Tapi di hari selanjutnya yang kita lalui, mata kita tak lagi saling mengunci. Tatapan kita terlepas karena objek-objek lain yang ada disekeliling kita. Letupan-letupan kecil itu terpencar dari rangkaiannya, mengusik setiap lamunan di hadapan secangkir kopi. Bergerak teratur mengacau ketenangan dopamine, menggunung dan meledak, menghancurkan setiap kerja otak yang mengusung logika.

Aku ditertawai oleh secangkir kopi. Dia-kopi mengolok-ngolok keadaanku. Dia tak lagi manis diujung lidahku. Sementara kamu terlelap disana. Merangkai mimpi dengan segenggam cokelat ditangan mungilmu.

Embun-embun pun mulai berguguran, menari dan terjatuh diujung daun talas. Mengikuti perannya dalam skenario semesta yang sudah Tuhan tuliskan di Lauhul Mahfudz sebelum dunia dan isinya tercipta. Ayam yang berkokok mengantar jaelangkung pulang. Bintang tetap genit dengan kerlingnya. 

Menjelang Adzan Subuh kopi pekat pengiring sepiku bersabda. "Itulah cinta. Dia akan menghampiri pagimu yang tenang, menebar gelisah dan membuatmu membenci sains". Kalimat itu menggelinding bersama buih embun terakhir yang jatuh ke tanah. "Inikah cinta ? Satu hal yang tak pernah mampu dicerna logika". Jawabku.

Maka aku akhiri sepiku menjelang pagi. Aku tandai dengan perdebatan bersama secangkir kopi. Tentang kenapa wanita bisa membuat lelaki terserang penyakit gila stadium akhir. Tentang kenapa wanita selalu menyela. Tentang kenapa wanita suka pura-pura tak peka, padahal penglihatannya sudah dibantu kacamata minus tiga. Mendengar semua itu cangkirku pecah dalam hitungan enam ratus dua puluh empat detik. Kopiku tak mampu menjawab pertanyaan yang semakin banyak keluar dari mulutku yang nyatanya sangatlah bawel.

Mungkin hanya itu penggalan kisah yang sanggup aku ceritakan bersama sepi dan secangkir kopi. Di dalamnya aku leburkan tawa dan tangisku yang sejadi-jadinya. Menggagalkan kesangaran. Menumbuhkan harapan. Ketika pagi menyambut hari, aku ucapkan selamat pagi dengan sejuta pangkat cinta.

Saat ketika aku semakin tak mengerti cinta, maka kausunggingkan tawa yang membuatku bahagia..

con amore....
Thanks for reading......



Kamis, 01 November 2012

Gadis Hiragana


Hey Gadis Hiragana. Sebentar, bisakah kau jelaskan arti tulisan itu. Aku lihat pensilmu sangat lincah menulis aksara jepang yang sangat aku benci ketika sekolah.

Aku tercengang, ketika satu persatu kau isi teka-teki itu. Aku mungkin tak cukup lama mengenalmu, aku tak pernah tahu adakah satu dari sekian kemampuanmu untuk menulis aksara itu. Karena yang aku tahu kita bisa bersua setiap waktu, kita berbagi tawa setiap jumpa.

Tapi malam tadi ada hal yang tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Kamu hadir di mimpiku. Sepanjang mimpi kita tertawa, kita bergandengan tangan. Ah... Ada apa dengan kita ?

Disaat terjaga aku bertanya-tanya. Tuhan, gerangan apa yang kau coba lagi aplikasikan dalam struktur kesintinganku ?

Di akhir mimpi kamu-Gadis Hiragana, menyelesaikan teka-teki itu. Aksara yang sedikit pun tak mampu aku mengerti. Mungkin tak mau mengerti, karena masih memendam dendam nasionalis akibat dulu negara kita terjajah oleh bangsanya.

Hey kamu... Iya kamu gadis pemecah teka-teki hiragana. Kamu mencuri waktu tidurku, padahal hampir setiap hari kita diskusi. Ada pesan apa yang hendak kau sampaikan ? Harusnya kamu tahu jika aku buta akan aksara aneh itu.

Sejak tadi pagi diam-diam aku memikirkan mimpi itu, juga kamu. Lalu aku curiga kepada Tuhan, jangan-jangan Ia ingin aku segera berpacaran. Tuhan, pacaran itu tak bisa dipaksakan. Kita harus diskusi ulang tentang ini. Tuhan aku tahu, diam-diam kamu-Tuhan mengintip isi hatiku: rasa sepiku yang semakin hari semakin disudutkan oleh waktu.

Hey Gadis Hiragana, jika kamu hanya mimpiku tetaplah menjadi mimpi. Kamu harus tahu, kalau aku sangat senang bermimpi, bahkan untuk hal yang paling gila di dunia ini. Tapi, jika seandainya Tuhan ingin membuat sekenario baru dalam hidup kita, kamu harus tahu, bahwa aku hanyalah seorang lelaki sinting.