Rabu, 30 Juli 2014

Idul Fitri

Sutardji Calzoum Bachri




Lihat, pedang tobat ini menebas-nebas hati dari masa lampau yang lalai dan sia-sia. Telah kulaksanakan puasa ramadhanku, telah kutegakan shalat malam, telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang.

Telah kuhamparkan sajadah yang tak hanya nunu ka'bah, tapi ikhlas mencapai hati dan darah.

Dan di malam-malam lailatul qadar aku pun menunggu. Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya. Maka aku girang-girangkan hatiku. Aku bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam belumlah cukup untuk menggerakan Dia datang.

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu takkan pernah melupa. Takkan pernah kulupa janjiNya bagi yang merindu, insya Allah kan ada mustajab cinta. Maka walau tak jumpa denganNya, shalat dan dzikir yang telah membasuh jiwaku ini semakin mendekatkan aku padaNya. Dan semakin dekat, semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa.

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini ngebut dijalan lurus. Jangan Kau depakan aku lagi ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia. Kau biarkan aku menenggak marak cahayaMu di ujung usia.

O usia lalai yang berkepanjangan yang menyebabkan aku kini ngebut dijalan lurus. Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi di trotoir tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia.

Maka pagi ini kukebakan zirah la illaha illallah. Aku pakai sepatu siratal mustaqiem, aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat ied. Aku bawa masjid dalam diriku. Kuhamparkan di lapangan, kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali disana.






Thanks for reading...

Rabu, 02 Juli 2014

Seperangkat Fasilitas Mesin Waktu

Bandung 3 Juni 2014


Sesosok jiwa yang tak pernah seutuhnya ada. Tak pernah pada tempatnya, pada waktu dan raganya. Melempar-lempar gelisah diantara tebing kegaluan. Mengikis stalagtit dan stalagmit yang semakin menghimpit di dalam kenang yang menyempit.

Mungkin Tuhan iba melihatku yang sering tertipu waktu, mengulang malu, menyekap rindu sewindu yang tak kunjung berlalu. Mungkin Tuhan sedang menghiburku dengan logika sains, tentang bagaimana mekanika hormon bekerja dengan hal yang sama dan orang yang berbeda, atau bagaimana momentum dapat bersinggungan dengan waktu, kesimbangan dan laju mundur, listrik statis dan konduktor, gelombang suara dan pantulan, atau lama bumi mengelilingi matahari. Mungkin Tuhan sedang mengujiku dengan kebahagaiaan yang sama, kebahagiaan yang sempat entah kemana. Mungkin Tuhan ingin memberiku hadiah seperangkat fasilitas mesin waktu. Mesin waktu yang malu-malu menahan malu.

Atau mungkin Tuhan sudah lelah, lelah melihat seseorang yang lelah, mencari jalan menuju rumah, mencari cawan untuk menempatkan rindunya, atau mungkin jiwanya.








Thanks for reading...

Senin, 26 Mei 2014

Sesal

Menjegal langkah yang terlalu jauh, antara ambisi dan keinginan hati yang sulit di tolak. Aku terperosok lagi ke dalam sebuah jurang, ke dalam kikuk yang untuk entah. Untuk kepala yang sudah terlalu tegak, dan dada yang terlalu membusung. Mengotori diri sendiri adalah caraku untuk mengerti bahwa selurus apa pun jalan yang kutempuh tetap saja ada kubangan di dalamnya. Maka setegak-tegaknya kepala dan sebusung-busungnya dada, menunduk adalah cara terbaik untuk mengambil langkah.

Pijak yang tadinya tegak menjadi goyah, dan entah, semuanya begitu saja. Seperti entah yang dari entah datangnya. Pernah aku coba bertanya pada kepalaku sendiri yang selalu hingar, tapi jawaban yang ada hanya sunyi: seketika singup, susut, dan luput. Lalu kunang-kunang, hujan, dan secangkir kopi berebut waktu denganku dalam malam.

Tuhan bisa kita negosiasi ulang tentang takdirku?





Thanks for reading...

Minggu, 18 Mei 2014

Sekali Lagi, Menyebalkan!

Dulu aku masih ingat sekali, rasa kagum sekaligus terkesima ketika aku berada di Blok M Plaza dan naik lift sampai ketinggian tiga belas lantai. Tuhan, jujur saja itu adalah pengalaman pertama hambaMu yang kerdil ini naik lift sampai ketinggian melebihi sepuluh lantai. Bahkan aku masih ingat kali pertama aku naik lift adalah ketika almarhum kakekku dirawat di sebuah rumah sakit swasta di wilayah Bekasi. Aku berhasil naik lift sampai lantai tiga dengan perasaan senang sekaligus deg-degan karena takut tiba-tiba lift mati dan jatuh ke lantai dasar. Mungkin itu disebabkan karena aku terlalu banyak menonton film action atau karena instinct udik alamiahku yang sulit untuk lenyap. Tapi setelah aku kuliah, aku setiap hari terbiasa naik lift di kampus, bahkan aku pernah berlaga so cool ketika terjebak di dalam lift yang tiba-tiba saja mogok. Padahal hatiku sudah gelisah tak karuan karena takut kehabisan oksigen dan tiba-tiba mati di dalam lift yang sudah terkenal rombeng itu. Dan lantai tertinggi yang pernah aku tempuh menggunakan lift adalah lantai dua puluh di wilayah perkantoran Jl. Mega Kuningan. Well, ternyata hal yang sederhana di dunia ini bisa sangat berarti bagi seseorang.

Tuhan, betapa kadang aku merenungi takdir-takdir yang sudah aku jalani. Jika saja aku punya hak untuk memprotes takdir, mungkin aku akan jadi mahluk yang paling bawel dan paling banyak menyampaikan protes kepadaMu, Tuhan. Dan jika waktu adalah permainan ular tangga-lempar dadu, aku akan terus-terusan mencari gambar ular yang sering membuatku terperosok ke angka yang sudah aku lewati. Sederhana saja, aku hanya ingin mengulang lagi hal-hal yang sudah aku lewati dan berjalan tak benar menurut hematku sendiri. Kadang manusia menjadi seperti tak dapat menerima takdirnya jika dihadapkan pada sesuatu yang mereka anggap pernah melewatkannya di masa lampau, hal itu terjadi kepadaku, tepat pada saat ini. Jika aku dilahirkan dari keturunan yang mempercayai renkarnasi mungkin aku sudah bunuh diri berkali-kali hanya untuk kembali hidup dan mengambil apa yang aku lewatkan.

Aku mengarang narasi ini di hadapan cermin yang memamerkan wajahku. Aku ingat satu pepatah bahwa semakin rupawan wajah seseorang, maka hidupnya akan semakin tak tenang. Aku telisik setiap inch dari wajahku: biasa saja, tapi kenapa aku merasa hidupku tak tenang? Di dalam cermin itu aku dapatkan sepasang mata yang menatapku iba, dan sejenak kemudian kita menagis bersama. Entah apa yang ditangisi, tapi mata itu merekam segala yang sulit diceritakan. Hatiku banjir, jiwaku limbung diterpa segorombolan nostalgia.

Bulir-bulir gelisah yang meletup-letup kecil dalam hatiku adalah hal yang sulit untuk dipungkiri. Aku seperti mengenal senyum yang terpapar dihadapan wajahku ini, sebuah kehangatan yang hadir di malam yang diguyur hujan lebat dengan durasi hebat. Senyum yang membuatku gagap untuk memilih aksara mana yang hendak kutulis untuk mulai menceritakan keindahannya. Jika jatuh cinta pada sebuah senyuman adalah sebuah kesalahan, maka sebagian manusia di dunia ini akan menjadi orang bersalah karena mengagumi lukisan Mona Lisa yang lukis oleh Leonardo Da Vinci. Tapi betapa menyebalkan jika ternyata aku hanya sebatas sanggup mencintai sebuah senyuman yang hampir setiap hari lalu lalang di hadapan mataku.

Larut, malam semakin larut dan menyongsong dini hari. Kunang-kunang dengan cahaya temaram membawa cerita tersendiri tentang kawanannya yang gemar bermain air. Jelangkung lupa pulang dan tak ada yang sudi mengantar. Angin malam yang senyap diam-diam menyelundup kedalam sepi dan membisikkan kata: doa yang bersemayam dalam dada, putus asa yang ingin sirna, dan rindu yang tiba-tiba datang menjelma. Yang dari perasingan bergerak pulang walau dengan jinjingan kosong, dan yang dekat malah pergi ke perasingan. Ada yang saling mengasingkan, juga ada yang asing pada segala ragu yang malu-malu.

Jangan gemetar, aku baik-baik saja, walau sering tertunduk menahan keberanian yang lindap dibalik gagap. Jangan malu-malu karena aku lebih memalukan, sebagai lelaki aku tak berani memberi tegur untuk menyapa. Bahkan segala hingar yang ada terasa kurang bingar ketika kulihat sepasang langkah tepat di hadapan mataku merasukan sepi secara spontan. Aku tahu diam-diam kau mencuri pandang ke arahku, dan aku adalah perampas pandang yang ulung dari belakangmu. Dan sekali lagi, betapa menyebalkannya menjadi seorang lelaki yang pemalu sekaligus merangkap memalukan seperti diriku.










Count your age by friends,not years, count your life by smiles, not tears - Jhon Lennon










Thanks for reading... 

Minggu, 11 Mei 2014

Menyebalkan!

Aku mendengarnya, dua-tiga kali hujan mengetuk genteng kamarku. Empat-lima kali masih tak kuhiraukan, sampai akhirnya mereka berbondong-bondong menyerang kamarku: tempat segala yang tak terucapkan. Siapa yang tak menciumnya? Saat terik memanggang segala yang terhampar di atas bumi, tiba-tiba saja hujan datang melakukan agresi. Tanah yang kering dan ternganga menjadi saksinya, debu yang berhamburan lindap tak tersisa. Hujan sore ini, menyisakan bau bumi yang menenangkan isi kepala.

Waktu datang tanpa kenal batas, seribu bayang-bayang pulang saat hujan meneduhkan segala kerumitan yang hilir mudik melintas pikiran. Sejuta keindahan membuat kubangan di halaman rumah, dan buah-buah kesombongan gugur sebelum ranum. Jika bahagia adalah memutar waktu, aku akan sangat bahagia kembali pada masa delapan tahun yang lalu. Hidup tanpa beban pikiran yang tak masuk akal, belajar membaca Al-qur'an dan tajwid, tertawa riang tanpa takut ada yang merasa terganggu, bermain gitar dengan nada sumbang yang tak tahu malu, mengintip orang-orang pacaran, mencuri di kebun tetangga, memakai narkoba di tepi jalan, atau menjadi rebutan gadis-gadis yang gemar mencuri perhatian. Tapi waktu pergi tanpa meminta untuk diputar ulang, aku sudah tidak berada pada masa delapan tahun yang lalu lagi. Sekarang hidup dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit diterima oleh akal sehat, salah belok bisa saja terperosok ke dalam jurang. Ahh, namanya juga hidup, segala pilihan pasti memberikan resiko yang harus diterima, dan cita-cita setiap hari berubah semakin tak jelas, karena yang paling jelas cuma bunyi Idzhar.

Aku sudah melewati banyak masa, mengenal banyak orang, mempelajari beragam sifat manusia, mencicipi beberapa larangan, melewati banyak tantangan, memikul harapan, mendapatkan keajaiban yang nyata, dan hal-hal yang beberapa orang yang seuisaku (mungkin) belum pernah merasakannya. Kehidupan ini lebih nyata dari apa pun: tangis-tangis penyesalan, teriakan penuh bangga, senyum kemenangan, gegar kemarahan, keluh kelelahan, jerit keperihan, bahak para pembual, dan segilintir hal lainnya yang menjadi bukti bahwa hidup ini memang lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan. Setiap hal diposisikan tergantung pada tempat dan keadaan, jangan menyamakan semua hal seperti selembar kertas putih kosong yang bisa dipenuhi dengan tinta warna apa saja. Yang di gurun tak membutuhkan bahtera untuk melewati hamparan pasir yang membentang sepanjang mata, dan yang di samudera tak butuh unta untuk mencari dermaga. Semua hal di dunia ini sudah dipasangkan-pasangkan sesuai dengan yang kita butuhkan, sama seperti setiap pertanyaan sudah dipasangkan dengan jawaban. Kalian tahu betapa menyebalkannya berada disekililing orang-orang yang tak sepaham dengan isi kepala kita?












Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humanoria memang indah bila diucapkan para mahaguru---indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya. (Pangemanann, 39 - Pramoedya Ananta Toer)







Thanks for reading...

Sabtu, 26 April 2014

Di Suatu Hari Tanpa Nama

Di suatu hari tanpa nama, dan jejak-jejak si pencari yang belum seutuhnya sirna. Pagi datang dengan tidak tiba-tiba, melintas malam yang penuh dengan cerita-cerita sebuah insomnia. Aku, seorang pencari yang melewati batas nalar, bertarung dengan akal sehatku sendiri untuk menemukan rahasia-rahasia yang tidak pernah aku mengerti seutuhnya.

Ayam jantan berkokok dengan sangat ramah, walau semalam tidur sendiri dan tak tahu si betina yang dikawini di hari sebelumnya membuat mimpi dimana. Dasar ayam! Mungkin jatuh cinta harus menjadi seperti ayam, seperlunya saja, dan esok pagi adalah hari baru dengan cinta yang (mungkin) baru juga. "Tapi ayam bukan mahluk yang berakal", terdengar dengungan samar seperti bunyi Gunnah yang dari entah.

Aku sajikan secangkir teh manis untuk diriku sendiri, kopi sedang tak bersahabat denganku pagi ini. Setelah subuh ditunaikan aku butuh menghangatkan tubuh dengan kesejukan lewat teh manis. Kopi tak akan memejamkan mataku yang butuh istirahat pagi ini, karena semalam mata yang tak sipit dan kurang belo ini habis meronda dan menjadi saksi sengketa antara isi kepala dan perasaan yang sering tak sejalan. Aku sudah menyabung hidupku dengan segala ambisi yang sering menekan perasaanku sendiri. Isi kepala yang selalu memberontak dan menolak pada segala bentuk yang kadang hanya diriku sendiri yang menilainya tak adil. Pada akhirnya aku hanya menabung amarah yang tak tahu harus diberikan pada siapa.

Pada hidup, pada segala perjalanan yang membawa cerita tentang kontradiksi antara teori dan ayat-ayat Illahi. Seorang manusia kotor yang sedang belajar menanam Aqidah dan Akhlaq pada akar rapuh keimanannya. Sering waktu aku harus membenci diriku sendiri, mengumpat dan menghina segala yang telah aku perbuat. Katanya hidup bisa memberikan segala pada barang siapa yang pandai menerima (Pramoedya Ananta Toer - Bumi Manusia), itu sangat persis seperti yang berkali-kali aku pikirkan, bahwa hidup adalah kebahagiaan bagi siapa saja yang mau menerima dan tak banyak meminta.

Akan tiba saatnya kita merasa lelah dan ingin berhenti dalam sebuah perjalanan panjang, seperti ingin 'pulang' saja rasanya. Ketika semua hal yang kita perjuangkan tenyata hanyalah omong kosong belaka dan setiap langkah adalah sia-sia yang menyambangi putus asa. Pada saat itu tiba semuanya akan dikembalikan pada pilihan yang teronggok di depan pintu rumah kita: kembali melangkah atau kembali masuk ke dalam rumah. Bukankah sebaik-baik hidup adalah belajar, dan pelajaran sudah tersaji sejak kaki berada satu langkah di depan pintu rumah (Zafar Arif 286). Di luar sana memang tak selalu senyaman di rumah, tapi memang itulah dunia yang sedang kita tempati sekarang ini. Selalu ada indikasi-indikasi baru terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah tak baru, dan tugas kita hanya perlu mengimani bahwa Tuhan adalah sebaik-baik pembuat takdir. Segalanya sudah menjadi terang ketika pada suatu waktu saya membaca kalimat "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" (QS. Al-Baqarah ayat: 2). Karena pada akhirnya segala urusan akan dikembalikan kepada Tuhan, dan Al-Qur'an adalah sebaik-baik pedoman yang pernah diciptakan.

Burung gereja menari-nari riang dikubangan air sisa hujan semalam dan kupu-kupu meliuk-liuk diujung bunga yang baru saja mekar dan tertimpa cahaya matahari. Perjalanan bukanlah untuk pulang, tapi hidup adalah perjalanan menuju pulang dan rumah adalah tempat terakhir kita ingin pulang. Yang indah-indah selalu ada seperti fatamorgana di tengah gurun yang seperti tak berujung. Mungkin keindahan asli yang dapat dilihat hanya ada pada bunga: mekar selama tiga hari lalu mati. Mungkin begitu juga dengan cinta, yang asli hanya tumbuh tiga hari, lalu mati seperti bunga. Tapi apalah yang lebih indah daripada tersenyum pada hari kematian dan bersenang-senang pada hari kebangkitan.

Semua yang menggungat dan segala yang tergugat dalam kehidupan memberikan banyak pengertian bahwa ternyata hidup juga adalah suatu bentuk pemenuhan bagi setiap orang. Separuh dari kita memerlukan hal yang hanya bisa dipenuhi oleh orang lain, jadi jangan pikir kita bisa berdiri kokoh tanpa ada orang lain yang menopang. Tak semua yang dianggap orang realistis itu sama dengan apa yang kita pikirkan. Akhirnya aku mengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia: segala sesuatu yang sangat rentan untuk hancur. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa bangkit lagi setelah berkali-kali terjatuh, karena hidup tak memberikan apa pun kepada yang hanya diam saja, dan inilah aku pada dini hari yang apa adanya.








...Ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, bintang selatan... yang menunjukan jalan pulang bagi hatimu, untuk, akhirnya, menemuiku.. - Dee






Thanks for reading... 

Senin, 21 April 2014

Menanam A-A-A Dalam Ahmad Abdul Aziz

Saya baru sadar, dari pertama kali menulis sampai sekarang sudah banyak perubahan yang terjadi pada cara saya menulis. Membaca tulisan saya sendiri adalah salah satu bentuk kekonyolan yang sering saya lakukan, mungkin karena saya ingin tahu kenapa banyak orang yang enggan membaca tulisan saya.

Menulis sendiri sudah seperti kegiatan melacur, jika si pembaca senang dia akan kembali membaca lagi, jika tak senang maka hasilnya dapat ditebak dengan mudah, dia (mungkin) tak akan kembali membaca dan sudah tentu meninggalkan kesan yang tak mengenakan ketika saya bertemu orang itu lagi.

Sementara proses menulis sendiri memerlukan totalitas yang luar biasa, hanya dengan menulislah saya bisa menggunakan hampir seluruh otak saya dan menggabungkannya dengan perasaan saya. Tapi siapa yang peduli pada proses, pelacur mana pun mungkin tak peduli bagaimana cara dia bekerja, yang penting uang didapat untuk menyambung hidup, hidup yang tak pernah mereka tahu ujungnya.

Yang saya tahu hanya pada sepak bola proses selalu diperhatikan, itu pun hanya oleh seorang pengamat, sedangkan puluhan ribu supporter hanya peduli jika tim yang mereka dukung harus menang, entah dengan cara apa pun, kalau perlu bunuh saja keeper dari tim lawan. Tapi saya tidak ingin membicarakan sepak bola, dan saya tak tahu apa yang akan saya tuliskan, bahkan selalu begitu setiap kali saya menulis.

Semuanya seperti tiba-tiba saja hadir dalam kepala saya, lalu jari-jari saya dengan tergagap-gagap mencari huruf pada keyboard komputer. Tak semua hal terjadi tanpa alasan tentunya, sometimes things happen for a reason dan menulis adalah salah satu alasan saya untuk berbagi kebahagiaan, kemarahan, kemalasan, kegundahan, kegilaan, dan berbagai macam hal lainnya.

Ketika batang terkahir dari bungkus rokok saya terbakar, saya tahu bahwa saya tak perlu terlalu banyak bercerita hal yang tak penting tentang kenapa saya menulis dan semua embel-embelnya. Saya putar lagu lama I don't wanna miss a thing milik Aerosmith yang dijadikan lagu khusus jatuh cinta di Inggris, tetapi dengan versi yang berbeda dari aslinya dan dinyanyikan ulang oleh Jake Coco dan Savannah Outen. Jangan cerita pada siapa-siapa, nanti orang-orang menyangka bahwa saya sedang jatuh cinta. Ingat jangan cerita siapa-siapa, karena hanya saya, lelaki yang kurus, bukan artist dan tampang tidak tampan, tetapi sering jadi bahan pembicaraan orang lain. Saya sering pura-pura tidak tahu dan selalu seperti itu ketika mendapati orang lain sedang membicarakan tentang saya. Saya membiarkan mereka berbicara apa saja, bahkan jika nanti sampai mulut mereka berbusa-busa saya akan tetap membiarkannya.

Modernisasi, Teknologi, dan segala bentuk peradaban masa kini membuat setiap gerak-gerik orang selalu menjadi bahan kecurigaan. Lama-lama orang seperti saya malas menegur orang lain karena takut dianggap cari perhatian, cuek disangka sombong, dan ketika saya mencoba untuk diam malah diduga sedang galau. Jangan juga sampaikan ini pada teman-teman saya, karena mereka bisa tersinggung dan berkhotbah sampai mulut mereka kering dan tak mau menyapa saya lagi.

Kalau boleh jujur, saya sering membayangkan menjadi seseorang yang disukai oleh banyak orang tanpa efek samping tertentu jika saya melakukan sesuatu. Setidaknya tidak ada kontroversi apa pun terhadap apa yang saya perbuat dan saya ucapkan, seperti orang biasa saja, orang normal pada umunya. Tetapi jika saya meminta hal itu menjadi kenyataan mereka tidak akan punya hiburan lagi untuk mulutnya, sama saja seperti mengharap turun salju di Madagaskar, hanya Tuhan dan kekuasaannya yang sanggup melakukan itu semua. Ahh, mungkin memang sudah kodratnya bahwa hal yang dibayangkan selalu tak berjodoh dengan hal yang dirasakan.

Tak perlu teori psiko-analisis Sigmund Freud untuk membuktikan apa yang saya ucapkan, dan saya tak akan melakukan pembelaan jika orang-orang memberikan tuduhan setelah semua ini. Karena pengacara paling korup di Indonesia pun tak akan sudi melakukan pembelaan untuk saya. Bagaimana pun dunia ini butuh pembeda, butuh siang untuk mengimplementasikan mimpi dan malam untuk merenungi hidup.

Saya kehilangan kopi saya malam ini, entah bersembunyi dimana, saya tak dapat mencium aromanya. Kopi yang banyak bicara, banyak berlelucon, sering terlambat tidur tapi selalu terbangun sebelum subuh. Apa saya masih belum sadar jika saya sudah melewatkan beberapa kopi karena kepala saya terlalu sesak memikirkan banyak narasi dan segala macam formula untuk mewujudkan segala bentuk keinginan saya yang seperti seorang idealis?

Suatu sore saya duduk berempat bersama teman saya, ibunya, dan pacarnya di meja makan untuk makan bersama. Tentu saja bukan acara makan siang, karena jam makan siang sudah terlewat sekitar empat jam-tiga puluh menit, untuk dikatakan makan malam pun seperti sebuah lelucon dangkal, karena matahari masih terbungkuk-bungkuk menuju senja. Kami semua berdoa masing-masing, mungkin ada yang tidak berdoa, tetapi saya selalu belajar untuk berdoa ketika hendak makan. Kejadian itu seperti paradoks di dalam paradoks, karena sudah pasti di hadapan meja itu hanya saya yang mengucapkan bismillah, dan yang lainnya entah mengawali dengan kalimat apa. Si tuan rumah (teman saya) bukalah seorang muslim, ketika dia mengajak saya makan, saya diambang kebimbangan, sejujurnya ini bukan kali pertama saya makan bersama keluarga yang beragama bukan Islam. Jika saja ibu saya mengetahuinya mungkin ia akan menggerutu hal yang sama seperti ketika saya masih kecil: jangan makan di rumah orang yang bukan beragama Islam, karena wajannya bekas masak daging anjing atau babi. Begitulah keluarga saya, karena kami lahir dari keluarga yang belajar untuk taat beragama, tapi kadang dogma menjebak kami dalam suatu premis yang belum tentu benar nyatanya. Boleh saya sedikit penasaran? Karena saya tak pernah mendengar orang yang tidak beragama Islam berkata "jangan biarkan orang Islam sholat di rumah kita, karena mereka menyembah Tuhan yang berbeda". Tunggu jangan berburuk sangka dulu, boleh jadi memang hanya saya yang pernah menumpang sholat di rumah yang dihuni oleh keluarga yang semuanya bukan seorang muslim. Paragraf ini adalah pengecualian.

Malam sebelumnya saya masih di rumah yang sama untuk membantu teman saya menyelesaikan pesanan lem dari ditributor di Purwokerto, anggap saja saya sebagai pekerja paruh waktu di perusahaan yang sedang dirintis oleh teman saya itu. Setelah menunaikan ibadah sholat Ashar di rumah, saya datang dengan membawa sarung. Saya pikir lebih efisien jika saya menunaikan sholat Maghrib di rumah teman saya, jadi tidak menghambat waktu kerja atau menimbulkan dugaan bahwa saya sengaja mencuri waktu untuk bermalas-malasan dengan beralasan sholat. Ketika Maghrib tiba saya meminta izin untuk menunaikan ibadah sholat maghrib di kamarnya, dia mempersilahkannya, bahkan sampai hendak menggelar tikar sebagai alas, tetapi saya menolaknya. Setelah salam terakhir dari sholat, saya merenung, terdiam sejenak dan meminta petunjuk dari Tuhan. Mungkin inilah penjelasan nyata dari Surat Al-Kafirun, dan kemudian saya menanamkan A pertama ke dalam diri saya ketika teringat ayat terakhir dari surat tesebut. A pertama itu adalah Allah, segala sesuatu tentang urusan di dunia dan hari akhir berada ditanganNya, saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang muslim, dan jika teman saya menyembah sesuatu Hal lain yang dia anggap Tuhan maka itu adalah urusan dia.

Saya dapati secangkir kopi pekat, hitam, dan hampasnya yang tak beraturan di bibir gelas di sebelah laptop saya. Saya baru saja menyeduhnya, karena akal sehat saya perlu dipertahankan untuk beberapa jam yang akan datang. Menilik tentang kehidupan saya yang sudah berlalu, ini lebih mirip dengan napaktilas pengalam psikologis di masa lalu untuk saya --- terinspirasi Falsafah Janteloven yang saya baca pada artikel halaman sepak bola pada sebuah website. Dulu saya adalah seorang anak kecil yang menuruti segala norma yang dibuat dari pepatah orang tua terdahulu. Memang pada kenyataannya segala petuah-petuah yang kemudian dijadikan norma itu hampir seluruhnya bernilai baik, saya mengakuinya. Lalu sekarang peadaban berubah dengan cepat, bermula dari karya Bill Gates dan Steve Jobs, dan yang terbaru adalah rezim Android dengan segala fitur gilanya yang sulit diterima nalar. Lalu saya tanamkan A kedua ke dalam diri saya: Aku. Aku yang bukan bermaksud untuk mejadikan diri saya menjadi Keakuan. Menurut saya Aku yang saya tanamkan dalam diri saya adalah jati diri, bentuk prinsip yang tak ingin digerus oleh peradaban. Lalu orang-orang menanggap saya kolot dan pada akhirnya saya divonis dewasa sebelum waktunya oleh teman-teman saya sendiri. Apakah sebuah kesalahan untuk menjadi tidak sama dengan orang lain? Pada akhirnya Si Kolot yang dianggap dewasa sebelum waktunya menjadi orang yang dipenuhi segala keluhan dari Si Trendy, dan juga dijadikan database jawaban untuk segala tanda tanya yang bertumpuk di kepala orang-orang yang menganggap dirinya modern. Tetapi yang dianggap kolot tetaplah seperti orang tua jompo, selalu ditinggal, tak pernah diajak, dan kadang seperti diasingkan. Baiklah, besok, lusa, minggu depan, atau dalam waktu yang tak terduga mungkin akan ada yang bertanya-tanya dalam hatinya bahwa siapa yang saya anggap Si Trendy?

A kedua sudah tertanam dalam diri saya, walaupun mungkin dalam kemasan berbeda karena improvisation selalu dibutuhkan untuk menyesuaikan keadaan. Karena pada titik akhir, saat seorang lelaki sudah tak memiliki apa pun, yang masih akan dipertanyakan adalah jati dirinya, saya yakin itu.

Jadi siapa yang bertanya-tanya tentang A yang terakhir? Karena A yang terakhir adalah Anda. Anda yang pernah hadir dalam hidup saya dan Anda yang belum hadir dalam hidup saya. Siapa pun Anda, karena setiap orang adalah pecahan dari bentuk lukisan nilai kehidupan saya (psyche). Dari Anda saya banyak belajar bahwa baik-buruk sudah mengalir dalam darah manusia, sama halnya dalam diri saya --- mengutip tweet Sudjiwo Tedjo. Lalu saya, Anda, dan segala macam toleransi yang harus dibangun ulang, mari kita bersulang untuk secawan tawa yang pernah bergeming.

















...I'm trying to do that but it's difficult to control my emotions - Steven Gerard on Premier Leagues's title













Thanks for reading...